Kisah Musfalah, Mantan Asisten Rumah Tangga (ART) di Kuching yang Kini Menjadi Pengusaha Kue Kering
Di publish pada 07-02-2024 07:43:02
Lahir dalam keluarga petani yang tinggal enam puluh kilometer dari perbatasan Indonesia-Malaysia, dan tanpa biaya untuk berkuliah, setelah lulus dari SMA, Musfalah meninggalkan kampung halamannya di Desa Sekuduk, Sejangkung, Sambas, untuk merantau ke Malaysia.
Merantau ke Malaysia dan menjadi Asisten Rumah Tangga (ART) adalah hal yang lazim dilakukan oleh warga di kampungnya. Dia menceritakan bahwa sebagian besar pemuda di kampungnya merantau ke Malaysia untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Mengikuti jejak tetangganya dan bahkan kakaknya, Musfalah pun mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia. Dia mengatakan bahwa dulu dia harus melakukan perjalanan sejauh 250 kilometer dari Sambas ke Pontianak untuk mengurus visa dan segala legalitas lainnya.
Kabupaten Sambas yang terletak di Kalimantan Barat adalah salah satu kabupaten yang berbatasan langsung dengan Daerah Sarawak, Malaysia. Perbatasan ini tepatnya berada di Desa Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Sambas, Kalimantan Barat. Di daerah perbatasan tersebut berdiri Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk di mana terdapat pula Kantor Bantu Bea Cukai Sintete.
Musfalah, atau yang akrab disapa Bu Mus, memulai pengalaman kerjanya dengan menjadi asisten rumah tangga (ART) di sebuah keluarga di Kuching, Sarawak, Malaysia. Bu Mus pertama kali menginjakkan kaki di Kuching pada tahun 1994 ketika berusia 18 tahun.
Di Kuching, Bu Mus bertemu dengan keluarga majikan yang mengajari dan mendorongnya untuk membuat kue, mulai dari kue basah, kue lapis hingga kue kering. Setelah beberapa tahun bekerja bersama, keluarga majikan Bu Mus pindah ke Kuala Lumpur. Namun tidak dengan bu Mus, Ia masih bekerja sebagai asisten rumah tangga. Bu Mus juga dipercaya untuk melanjutkan usaha kuenya di Kuching. Karena keuletan dan kepiawaian membuat kue, usaha kue Bu Mus semakin berkembang, banyak reseller yang mempromosikan dan menjualkan kue-kuenya ke toko-toko hingga tempat wisata.
Bu Mus bahkan mengajak beberapa teman dari kampungnya di Sambas untuk membantunya mengelola usaha kue milik majikannya tersebut. Sekitar lima hingga enam orang ia ajak merantau ke Malaysia untuk menjadi pembuat kue. Hari-hari Bu Mus dihabiskan dengan kerja keras dan ketekunan. Pagi hingga sore ia bekerja sebagai asisten rumah tangga, malam hingga pagi buta ia menghabiskan waktu di dapur mengolah tepung, telur, dan bahan baku lainnya menjadi kue kering yang lezat. Bu Mus bekerja tanpa hari libur, namun ia tahu kapan saatnya untuk istirahat, saat badannya mulai merasa lelah. Selama ia masih merasa sehat, ia akan terus bekerja. Rutinitas pekerjaannya dari pagi ke pagi berlangsung hingga tahun 2019. Saat ini seluruh dunia dilanda pandemi Covid-19 dan Bu Mus pun memutuskan untuk pulang ke Indonesia.
Hasil dari 25 tahun merantau di Malaysia, Ia tabung sebagai modal untuk kembali ke Indonesia. Di usia yang tidak lagi muda, Bu Mus memilih Kota Singkawang untuk memulai usahanya barunya. Di Malaysia, ia sudah dikenal sebagai pembuat kue yang handal, namun di Singkawang, ia harus memulai dari awal dengan membuat produk dan menjualkannya.
Berawal dari dapur di rumahnya sendiri dan menjajakannya ke lingkungan sekitar, Bu Mus memulai usahanya dengan membuat kacang cornflakes dan kue kering yang ia pelajari dari pengalamannya bekerja di Malaysia. Ia juga menerima segala jenis pesanan nasi bungkus, nasi kotak, dan hidangan khas Malaysia seperti laksa. Apapun yang Ia jalani asalkan usahanya dapat berjalan dan bertahan, bahkan ia pernah menjajakan donat di pinggir jalan untuk menggunakan sisa-sisa bahan baku agar tidak terbuang sia-sia.
Bu Mus selalu mengutamakan rasa dan kualitas dari kue yang ia buat. Ia memiliki resep khusus yang berbeda untuk setiap kue. Bu Mus mengatakan bahwa konsumennya merasakan kue buatannya memiliki rasa yang berbeda di setiap jenisnya, bukan hanya topping dan tampilannya yang berbeda. Dengan usaha yang tak kenal lelah dan semakin banyaknya pesanan, Bu Mus akhirnya bisa memiliki rumah produksi sendiri yang terpisah dari tempat tinggalnya.
Hingga saat ini, Bu Mus telah memiliki empat karyawan tetap dan dapat bertambah tergantung volume pesanan. Bu Mus juga telah memiliki jaringan pembeli yang luas, mulai dari reseller di Facebook dan WhatsApp hingga menjadi pengisi rak-rak makanan di supermarket terkenal di Singkawang. Kue Kering dan olahan makanan yang ia buat ia beri label Musmusni Cookies.
Kue kering buatan Bu Mus mulai dikenal masyarakat Singkawang, selain itu berbekal koneksinya di Malaysia Bu Mus juga memiliki potensi untuk merambah pasar ekspor. Pada tahun 2020 dengan sinergi Pemerintah Daerah Singkawang dan Bea Cukai Sintete. Bu Mus mendapatkan asistensi ekspor untuk produknya. Bea Cukai Sintete melihat ada potensi ekspor untuk kue kering buatan Bu Mus, terutama karena ia juga telah memiliki konsumen dan pasar di Kuching, Malaysia.
Bea Cukai Sintete melakukan kunjungan ke dapur Musmusni Cookies, melihat proses produksi kue kering hingga proses pengepakan. Bea Cukai Sintete memberikan asistensi terkait tata cara ekspor, legalitas bahan usaha, sertifikat halal, peningkatan kualitas produk hingga kualitas kemasan.
Bu Mus melangkah dengan perlahan namun pasti, sekarang ini ia telah memiliki sertifikat halal, izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) dan telah mendaftarkan HAKI Musmusni Cookies. Saat ini Bu Mus mengaku telah mendapatkan pesanan kecil-kecilan dari Johor Bahru bahkan hingga Brunei Darussalam, untuk proses pengirimannya Bu Mus mengirimkan produknya melalui jasa ekspedisi pengiriman.
Bu Mus adalah contoh usaha mikro yang berjuang merintis usahanya dari kecil hingga berkembang. Walaupun perlahan, apa yang dia lakukan adalah sebuah progres dari perjuangan yang tak kenal lelah dan tak kenal menyerah. Peran dari Pemerintah Daerah dan Bea Cukai sangat berarti baginya, dia merasa pemerintah memperhatikan dan turut mendukung usahanya.
Bu Mus saat ini memang belum bisa mencantumkan produknya ke dalam dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) dengan namanya sendiri ke Malaysia, namun perlahan dia berusaha untuk mengurus legalitas usahanya, mulai dari pendirian badan usaha hingga ekspornya. Ekspor memang bukanlah hal yang sulit, namun bukan juga hal yang mudah untuk usaha mikro kecil. Namun baginya yang terpenting saat ini usahanya bisa bertahan dan berkembang dengan dukungan dari pemerintah.
Dukungan yang diberikan oleh Bea Cukai Sintete tidak hanya memberikan asistensi ekspor saja, namun juga mendukung keberlangsungan usaha Bu Mus dengan turut membeli dan menyajikannya di acara resmi kantor. Tidak hanya itu, Bea Cukai Sintete juga membantu mempromosikan produk-produk UMKM ke tamu-tamu kantor dan masyarakat.
Harapan besar Bu Mus adalah agar usahanya lebih berkembang dan bisa membantu anak-anak dan orang-orang di sekitarnya untuk mendapatkan pekerjaan. Harapannya juga untuk bisa melakukan ekspor dengan nama sendiri dalam skala besar ke Malaysia. Ia juga berterimakasih kepada seluruh warga Kuching di Sarawak yang telah memberikan dukungan untuk Musmusni Cookies sampai saat ini. Potensi UMKM untuk ekspor sekecil apapun perlu dukungan dari pemerintah dan Bea Cukai untuk membantu menjaga kelangsungan dan mengembangkan usahanya.
Sekecil apapun dukungannya, mulai dari melakukan kunjungan, membeli produknya, hingga mempromosikan usahanya, bisa menumbuhkan rasa percaya diri pengusaha UMKM dan memperkuat kepercayaan kepada institusi kita, Bea Cukai. Walaupun berada di ujung negeri, potensi UMKM untuk ekspor selalu ada di sini, batas bukanlah halangan untuk berkreasi, melainkan harus kita sebrangi untuk membuka peluang ekspor yang lebih berani. Salam Dari Batas Negeri!
Isikan nama, email dan komentar Anda
Berita Terakhir
Berita Terkait
Highlight Kantor Kami
Kantor Pengawasan Dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean C Sintete
Apa yang kami miliki
Berikut ini daftar Sistem Aplikasi yang kami sediakan untuk layanan yang dapat diakses